Laman Puisi RS^
Berbicaralah tentang dakwah kerana itu lebih kekal, sedangkan manusia akan musnah. Allah adalah tujuan kami Rasulullah teladan kami Al Qur'an pedoman hidup kami Jihad adalah jalan juang kami Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi
Wednesday, February 13, 2013
Dahulu, Kini & Akhirnya nanti
kita terpilih untuk diciptaNya
dengan tiupan roh ke janin
semasa dalam rahim seorang ibu
mula kenal dunia bila dilahirkan
penghujung hidup pasti menemui mati
namun mati bukan noktah sebuah hidup
selagi diberiNya nafas
perjalanan hidup perlu diteruskan
meski kekadang kerikil ujian menusuk
hidup bukan sekadar mengumpul kenangan
meski ada kenangan memang tidak mampu dilupakan
hidup adalah wadah mengumpul amal bekalan
kematian pula bukan perhentian terakhir
ada alam barzah transit pertengahan jalan
sebelum hadapi Hari Pengadilan
sehebat mana kehidupan di pentas dunia
mampukah kita beroleh al-Jannah
yang adalah kejayaan dan kemenangan hakiki
anNur, Simpang Renggam
140213
Wednesday, July 25, 2012
Pengajaran dari puisi Ya 'Abidal Haramain.
Antara rangkapnya:
"Wahai manusia yang beribadah di Haramain
andaikan engkau melihat kami,
Tentu akan mengerti bahwa engkau bermain-main dalam ibadah,
Dikau yang lehernya bersimpah air mata,
Maka, pangkal leher kami berlimpah darah tertumpah."
Hilal Asyraf(Official)
Wednesday, July 18, 2012
Andai Ini Yang Terakhir
Andai Ini Yang Terakhir
Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya sibuk berzikir
tentu tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu...merayu...kepadaNya Tuhan
yang satu
Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu solat kukerjakan di awal waktu
solat yang dikerjakan ...sungguh khusyuk
lagi tawaduk
tubuh dan qalbu, bersatu
memperhambakan diri
menghadap Rabbul Jalil....menangisi
kecurangan janji
'Innasolati wanusuki wamahyaya
wamamati lillahirabbil 'alamin'
(sesungguhnya solatku, ibadahku,
hidupku dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan
seru sekalian alam)
Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kusiakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan al-Quran bakal kau dendang...
bakal kau syairkan
Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu malammu engkau sibukkan dengan bertarawih
berqiamullail, bertahajud
mengadu...merintih..meminta belas kasih
"Sesungguhnya aku tidak layak untuk ke SyurgaMu
tapi kujuga tidak sanggup untuk ke NerakaMu"
Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu diriku tak akan melupakan yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kita buru...kita cari...suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan
Andai kutahu ini Ramadhan terakhir
tentu kubakal menyediakan batin dan zahir
mempersiapkan diri, rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan lorong-lorong redha Ar-Rahman
Duhai Ilahi....
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah ia Ramadhan paling bererti
paling berseri menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju redha serta
kasih sayangMu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami
di sana nanti
Namun teman...
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini yang terakhir kali
bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu
hanyalah berusaha...bersedia...meminta belasNya
Andai benar ini Ramadhan terakhir buat aku
maafkan semua kesalahan dan kesilapan
yang pernah aku lakukan
"Marhaban Yaa Ramadhan"
( Hayati puisi Andai Ini Yang Terakhir ditulis
Allahyarham Abdul Bar Mohd Khalil yang
meninggal dunia akibat barah hati pada usia
46 tahun, pada Februari 2007,
meninggalkan seorang isteri,
tidak dikurniakan anak )
Nota kaki :
Tuesday, July 17, 2012
Puisi Indah - Karya W.S. Rendra
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku...
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan....
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya...
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah....
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka....
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita....
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku....
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku....
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika.. ..
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku. ...
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih....
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku. ...
Ya Alloh, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah... .
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".
(Puisi terakhir WS Rendra yang ditulis di atas ranjang rumah sakit sebelum ajal menjemputnya)
Monday, July 16, 2012
Jangan sesekali lupa akan kematian
- Dr Taariq Ramadhan.
Dari dan Hanya Untuk-Nya
Bila Kebahagiaan itu Hadir,
Pastikan Bahwa Hanya Ia yang memberi dan
Hanya kepada Nya Pujian itu terucap,
Bila Ujian itu Datang,
Yakinlah Kehadirannya Bentuk Cinta Allah Kepada Kita,
Bila Dunia ini Penuh Warna,
Pastikan Hanya Keimanan Yang Mewarnai Hati dan
Setiap Perjalanan Hidup kita,
Bila Air Mata ini Mengalir,
Pastikan itu semua
Karena Taubat dan Kecintaan Kepada Nya,
Bila harus Berbagi, Yakinkan pada Hati Bahwa itu semua karena Perintah Nya,
Bila Nafas ini Berhenti, Pastikan Setiap Liku Kehidupan Hanya diisi Oleh Nya,
Tak Pernah Tahu Kejadian yang akan terjadi,
Karna Kita hanya berusaha Menjadi Sebaik – Baik Manusia,
Bermanfaat, Berbagi, Menyebarkan Cinta dan kasih untuk sekitar,
Hanya Allah sang Penjaga setiap Aktivitas kita,
Hanya Allah jua Sebaik – Baik Penolong dan Tempat Bergantung
Tersenyum terhadap Setiap apa yang terjadi,
Karena dibalik setiap Peristiwa,
Allah selalu berikan Senyuman untuk Kita,
agar kita menjadi lebih dekat dengan Nya
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21633/dari-dan-hanya-untuk-nya/#ixzz20mdIcuWX
Thursday, July 12, 2012
aku tak muda lagi
aku tak muda lagi
tika muda telah kugarap puisi-puisi
biar tiada siapa kongsi baca
pasti aku yang baca sendiri
tika aku tak muda lagi
baru aku sempat kenal
puisi-puisi Hlovate
tika aku muda lagi
aku sempat kenal
puisi-puisi
Sayyid Qutb
Muhammad Iqbal
Chairil Anwar
Kemala
T.Alias Taib
W.S Rendra
semua mereka telah pergi
kecuali Kemala
aku tak muda lagi
namun aku akan terus berbicara
dengan puisi-puisiku
sebelum aku juga akan pergi
catatan spontan
10:11 pagi; 13/07/2012
Simpang Renggam
Wahai bonda tersayang.
“Setiap kali engkau asyik mendengar tilawah al-Quran dari belakang tabir oleh para Qurra”
yang datang mengaji ke rumah kita di sepanjang bulan Ramadhan,
seandainya aku tercuai dan ingin bermain-main seperti kanak-kanak yang lain,
engkau akan mengisyaratkan kepadaku dengan tegas sehingga aku terdiam
dan turut menyertaimu mendengar bacaan itu.
Dari situlah jiwaku mula meneguk irama al-Quran
walaupun dengan usiaku yang masih kecil,
belum mampu memahami makna bacaan itu…
Ketika aku membesar di dalam penjagaanmu
, aku telah dihantar ke Madrasah Awwaliyyah di kampung.
Harapan terbesarmu kepadaku adalah supaya Allah
membukakan jalan kemudahan bagiku oleh Allah
untuk aku menghafaz al-Quran dan direzekikan kepadaku
suara yang lunak untuk membacanya.
Sesungguhnya semenjak itu
aku sentiasa membacakan al-Quran bagimu
di setiap masa dan setiap ketika…
Kini engkau telah pergi meninggalkanku,
wahai bonda tersayang.
Gambaran terakhir dirimu yang sentiasa segar di ingatanku
adalah samar-samar dirimu yang sering duduk di hadapan radio,
mendengar keindahan bacaan-bacaan al-Quran.
Amat jelas pada lekuk-lekuk wajahmu yang mulia,
tanda-tanda mendalamnya ertimu
terhadap makna yang tersurat lagi tersirat kalimah al-Quran itu,
dengan hatimu yang agung dan perasaan halusmu yang merenung.”
[ms 5, at-Taswir al-Fanni fi al-Quran, Dar ash-Shurooq, tanpa tarikh].
http://saifulislam.com/?p=301
Sajak Hassan alBanna
Tuesday, July 10, 2012
Saat tersembunyi maupun teramati manusia
Saat sunyi maupun riuh
Saat tersembunyi maupun teramati manusia
Di pojok kamar yang sempit maupun di lapangan luas
Semua tercatat dan terekam
Lalu bertanyalah kita:
Rekaman itu dipenuhi maksiat atau taat?
(Salim A Fillah: Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim)
Wasiat Rasulullah kepada Muaz
kuwasiati agar
bertakwa kepada Allah,
berbicara yang benar,
teguh memegang janji,
menyampaikan amanat,
meninggalkan khianat,
mengasihi anak yatim,
menjaga tetangga,
menahan amarah,
berbicara lembut,
memberi salam,
setia pada imam,
memahami al-Quran,
menyukai akhirat,
memprihatinkan hisab,
memendekkan angan-angan,
dan beramal baik.
Serta aku larang engkau
memaki orang Islam,
membenarkan orang dusta,
mendustakan orang benar,
menderhaka imam adil,
dan membuat kerosakan di muka bumi."
Badi' az-Zaman Sa'id alNursi
Dunia ini adalah perladangan. Oleh itu bercucuk tanamlah dan tuailah hasilnya. Jangan dibiarkan ia dipenuhi semak dan duri dan kekotoran.
ANDAINYA AKU PERGI
andainya mentari pagi
tidak akan dapat kutatapi
memang itu janjiMu Ya Ilahi
tiap yang hidup pastikan mati.
Tiada apa yang dapat kubekali
hanya amal ibadat duduk di sisi
harta benda tidak bererti
itu semua hiburan seketika
pasti ianya lenyap jua.
Aku tidak mahu ditangisi
andainya aku pergi
tetapi yang aku idami
ampun maaf semua sekali
doa untukku usah dilupai
agar terampun dosa yang kulakui.
Hayati Yahaya
Cantiknya kerana iman dan taqwa,
Izinkan daku menjadi sekuntum bunga,
Yang dihiasi dengan kelopak akhlaq mulia,
Harum wanginya dengan ilmu agama,
Cantiknya kerana iman dan taqwa,
Namun keindahan zahirnya ku simpan rapi,
Biar menjadi rahsia yang kekal abadi,
Bukan perhatian mata ajnabi,
Yang menjadi punca fitnah hati,
Ya Allah,
Timbulkanlah duri yang memagari diri,
Agar diriku terpelihara dari noda duniawi,
Yang akan menghilangkan keharuman sejati,
Yang akan memudarkan kecantikan diri,
Disebalik kekurangan yang tercipta,
Bukanlah alasan untuk bermuram durja,
Kerana setiap yang tercipta ada hikmahnya,
Izinkan ya Allah agarku menjadi permata,
Tetap menyinar walau di lumpur hina,
Tetap berharga walau dimana saja,
Buat ummah dan juga keluarga,
Izinkan daku menjadi seindah mawar berduri,
Yang menjadi impian setiap muslimah,
Yang indahnya bukan untuk lelaki,
Tapi permata buat yang bernama suami...
http://nurulfarienaasli87.blogspot.com/
Mengenali Syeikh Abbas Asisi: Penyeru Cinta Dakwah
Thursday, January 22, 2009
Pada tanggal 8 Ramadhan tahun 1425 H bertepatan dengan tanggal 22 Oktober 2004 dakwah Islam telah mengakar di Mesir, Syeikh Abbas As-sisi –rahimahullah- salah seorang tokoh pada tahun 30 an, pemilik institusi khusus dakwah yang dikenali dengan sekolah penuh cinta kerana pemiliknya terkenal dan masyhur dengan seorang yang penuh cinta, murah senyum, hati yang lapang dan terbuka. Beliau merupakan salah seorang dari sekian banyak orang yang tidak pernah kering dengan ideologinya dan amat teguh dalam dakwahnya walau dengan cubaan dan ujian yang berat yang menimpa dakwah di Mesir, bahkan beliau menerimanya dengan penuh cinta, syiar beliau yang paling terkesan adalah “Dakwah kepada Allah adalah cinta” dan bahkan syiar tersebut menjadi judul buku pada sekolah dakwah, dan dikenal oleh banyak generasi bahawa dakwah adalah cinta dan bahawasanya dakwah Islam tidak mengenal kekerasan.
Tentunya tidak asing bahawa beliau memiliki banyak pengikut -25 ribu atau lebih- dari pemuda yang mencintai beliau dan menimba ilmu dan pembinaan di sekolahnya, mendapatkan konsep-konsep tarbiyah yang dianggap telah usang dan konsep-konsep tarbiyahnya yang telah hilang dari banyak generasi di masa awal setelah mereka ditempa tarbiyah ala militer dan nilai-nilai keperajuritan yang keras, yang telah menghabiskan masa muda mereka di balik jeruji besi dan berkunci rapi; sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap manhaj dakwah ketika berhadapan dengan ujian dan siksaan.
Adapun beliau setelah keluar dari penjara seperti seorang yang lebih muda dari para pemuda lainnya; banyak senyum dan toleran walaupun terhadap musuhnya, dan melalui tangan beliau yang halus dakwah Islam bergerak, khususnya di tengah para pemuda “Jamaah Islam” di beberapa universiti di Mesir, metode dan sekolah beliau menjadi sebab bergabung dan bersatunya -terutama jamaah al-ikhwan al-muslimun pada tahun 70 an-, para ulama seperti Ibrahim Az-Za’farani dan Khalid Daud di Alexandria, Abdul Mun’im Abdul Futuh dan Hilmi Al-Jazar di Kaherah, dan Abu al-Ala Madhi di pedesaan.
Guru para pemuda tentang cinta dan perasaan
Abbas As-sisi merupakan sosok penghubung yang lembut dengan para pemuda terutama saat pecah gerakan kebangkitan Islam pada tahun 70 an yang memiliki pengaruh sangat besar dari terhindarnya para pemuda pada garis keras dengan manhaj dan metode dalam berdakwah kepada Allah yang bijak bijak.
Abbas As-sisi juga memiliki pengaruh yang besar dalam meluruskan etika dan perilaku Islam khususnya di Kota Alexandria -sebagai salah satu pusat kebangkitan yang menjadi medan dakwah yang luas-, mungkin hanya sedikit dari para da’i yang menerapkan kaidah ini dalam perilaku dan interaksi hingga dapat memberikan kelembutan di antara para pemuda dengan dai penyeru perasaan; kerana begitu banyak yang dibicarakan dan ditulis serta dimotivasi sehingga memiliki hubungan dengan beliau.
Abbas As-sisi (1918-2004) merupakan salah seorang da’i generasi awal dalam harakah Islam yang gigih dalam berkomunikasi dengan para pemuda dan memfokuskan dakwah kepada mereka, berinteraksi dengan mereka selama beberapa tahun antara kemajuan dan kemunduran. Beliau memiliki banyak pelajaran yang mampu memberikan pengaruh pada setiap tingkatan. Beliau juga telah menyaksikan kemajuan dakwah Islam pada kurun waktu tahun 80 an yang merambah ke dalam berbagai universiti di seluruh pelusuk
Begitupun muhadhoroh-muhadhoroh beliau di kota Alexandria setelah dimulainya gerakan pengikisan di berbagai universiti Mesir, dan setelah terjadi benturan antara gerakan dan kekuasaan yang berakibatk pada tersosialisasikannya persatuan pelajar, lembaga sosial dan aktiviti di masjid-masjid, memberikan pengaruh besar dalam menenangkan jiwa yang bergolak dan menghilangkan sikap ekstrim, setelah adanya pertemuan dalam muhadhoroh saat itu.
Beliau tidak pernah meremehkan undangan para pemuda untuk berjumpa dengannya, kerana beliau memang gigih dalam menanamkan ruh cinta dan ukhuwah diantara mereka, sebagaimana beliau tidak pernah melewatkan waktu sedikitpun untuk berkunjung, beliau berkata :
“Saya pernah diundang untuk ziarah pada sekumpulan pemuda, dan memakan waktu perjalanan selama 3 jam ! dan ketika tiba, saya dapati mereka telah menyambut saya sambil duduk! Mereka diam seperti batu, perasaan mereka seakan kosong, mata mereka seakan mati, akhirnya salah seorang yang tertua dari mereka menghampiri saya lalu saya sampaikan kepada mereka dengan tanpa perasaan dan ruh. Setelah selesai berbicara mereka berterimakasih kepada saya dan saat saya keluar seakan saya berta’ziyah pada orang yang meninggal!! Lalu saya kembali dengan sedih terhadap apa yang saya saksikan dan lihat!!
Waktupun berjalan; hari demi hari, minggu demi minggu, datang kepada saya salah seorang akh yang mengundang saya sebelumnya, datang mengundang sekali lagi untuk mengunjungi mereka.
Saya katakan kepadanya: Kemana?
Dia berkata: kepada Ihkwah.
Saya katakan kepadanya: apakah mereka ikhwah?
Dia berkata: Ya.
Saya berkata: Mustahil mereka dapat merasakan makna ukhuwah, bagaimana mereka seorang ikhwah…padahal datang kepada mereka seorang tamu, perjalanannya memakan waktu 3 jam, datang dengan penuh kerinduan yang membara, perasaan yang bergelora, dan jiwa yang lapang. Namun mereka menerimanya dengan perasaan yang lesu dan duka. Begitulah kehebatan tokoh ini begitu menghargai dan menghayati nikmat ukhwah dalam berjamaah.
http://tarbiyahpewaris.blogspot.com/2009/01/mengenali-syeikh-abbas-asisi-penyeru.html
Mengenang Pemergian Abbas Assisi
Jika Allah memuliakan sebahagian tempat atas lainnya. Maka untuk meraih tempat berkah tersebut kita mesti menziarahi ke sana. Selain itu Allah juga meninggikan darjat sebahagian waktu atas yang lainnya. Kita tunggu atau tidak, waktu tersebut akan melewati kita. Dan setelah itu terserah kita. Memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya atau bahkan bersikap tidak acuh dan seolah ia tidak ada.
Apapun sikap kita, Ramadhan telah menemui kita. Ustaz Abbas pun mendapat sebuah kehormatan dipanggil Allah di bulan mulia ini. Meskipun mungkin selama Ramadhan beliau tidak melakukan apa-apa. Tapi bukankah ketika beliau sedar beliau menafkahkan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan dakwah Islamiyah. Kerana itu tidak berlebihan seandainya 8 hari beliau di bulan ini dihitung dan dilipatgandakan oleh Allah. Dia lah yang Maha mengetahui. Maha Pengasih yang sangat luas cintanya.
Ustaz Abbas memang tidak sepopular Syeikh Yusuf al-Qaradawy yang buku-bukunya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Lelaki yang tamat usia pada tahun ke 86 ini mewaqafkan hidupnya untuk sebuah idealisme risalah dakwah. Semasa kecil beliau sangat mahir bermain bolasepak dengan lincah. Beliau bahkan mengaku tidak pernah membayangkan akan boleh menulis. Seperti yang diungkapkannya di mukaddimah Fi Qafilah al-Ikhwan al-Muslimin.
Buku setebal 855 halaman ini merupakan sebagian catatan perjalanan hidupnya. Pertemuannya dengan Hasan al-Banna, teman dan sekaligus gurunya yang mengajarkan kekuatan cinta. Beliau meresapi benar petua sang guru, "Perangilah manusia dengan (senjata) cinta."
Saya baru saja merancang untuk bertemu dengan beliau. Kerana lintasan berbagai peristiwa yang beliau rakam dengan goresan tinta benar-benar sarat pelajaran dan ibrah. Saya belum sempat menamatkannya. Kerana ingin perlahan-perlalan menelusuri sejarah beliau. Kisah yang sangat unik, menarik dan bukan fiktif.
Beliau adalah guru cinta bagi dakwah al-Ikhwan al-Muslimun (IM). Ceramah dan tulisan-tulisannya selalu ditargetkan buat membidik hati. Bukan sekadar menebar pesona dan simpati. Namun, kekuatan karisma, cinta dan rasa persaudaraan yang tinggi.
Beliau adalah "sisa-sisa" generasi awal IM yang melalui hari-hari pahit di balik jeriji dan berbagai intimidasi serta tuduhan stigma subversif. Kegigihannya tidak menjadikan gaya hidup beliau menjadi keras. Sebaliknya, lelaki berambut putih itu selalu menebar senyum untuk siapa saja. Dalam keadaan apa saja. Di mana saja. Jelas, keteduhan yang dalam akan nampak di wajahnya yang meski dimakan usia tapi tetap berseri menawarkan semangat hidup yang tidak pernah padam.
Lihat saja dalam tulisan-tulisannya, ath-Thariq ila al-Qulub (Jalan Menuju Hati), Da'wah ilallahi Hubb, al-Hubb fillah Risalah, adz-Dzauq Suluk ar-Ruh dan lain-lain. Bacalah bukan hanya dengan mata. Hati Anda benar-benar telah ditariknya.
Kegigihan dan keberaniannya tidak pernah diragukan. Beliau terlibat dalam perang dunia 1940 di Gurun Barat (Gharbea). Beberapakali mengalami penangkapan. Dan pada awal 80-an menjadi salah seorang perintis dakwah IM di luar negeri.
Saya sebenarnya kecewa. Tidak ada satu media pun yang memberitakan kepergiannya. Mengulas profilnya untuk diketahui perjuangannya dan dijadikan ruh perubahan. Sabtu, Ahad, Isnin pun berlalu. Tidak satu pun menyebut namanya. Sampai akhirnya saya menemuinya di Tabloid Mingguan Afaq Arabia. Tabloid parti pembangkang ini mengulas panjang profil beliau dan komentar tokoh-tokoh penting IM. Termasuk diantaranya, pimpinan spiritualnya, Syeikh Muhammad Mahdy 'Akif.
IM kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Dan umat Islam juga merasakannya. Jasadnya memang tertanam dalam perut bumi. Namun, hatinya selalu hadir di tengah-tengah pada da'i, penerus hasratnya. Sebagaimana hasrat para pendahulunya.
Kini lelaki itu telah pergi. Menjumpai kekasihnya. Meninggalkan kefanaan yang kadang membuat terlena. Dan memasrahkan kebijaksanaan dakwah pada generasi setelahnya. Mahukah kita menyambut tongkat kebijaksanaan dakwah tersebut?
Saiful Bahri
Cairo, 20 Ramadan 1425
Iqbal Menarik Perhatian Manusia Menuju Kepada Kebenaran Yang Hakiki
Ayahnya seorang ahli sufi yang terkenal sementara nenek moyangnya berketurunan Brahamna Kashmiryang telah memeluk Islam tiga abad sebelum Iqbal dilahirkan . Iqbal tidak lupa pada asal keturunannya sehingga beliau turut menyairkan seperti berikut:
"Lihatlah daku ini kerana nantinya takkan kau lihat lagi. Di Hindi
seorang keturunan Brahman yang ahli dalam ilmu kebatinan dari Rom dan Tabriz"
Iqbal mendapat pendidikan awal di Sialakut dan kemudiannya memasuki intermiadiate college. Di maktab inilah beliau berguru dengan seorang ulama yang masyhur bernama Syamsalairhassan iaitu sahabat karib ayahnya.
Secara tidak langsung ulama inilah yang telah membajai jiwa Iqbal dengan air agama dan mengasuh mentalnya dengan pancaran cahaya keimanan dan ini amat berguna kepadanya yang bakal menempuhi kehidupan yang serba mencabar.
Atas rasa kekaguman dan mengenang jasa-jasa gurunya, beliau sempat mengungkapkan di dalam puisinya yang antara lain dinyatakan:
"Nafasnya mengembangkan kuntum, hasratnya menjadi bunga".
Seterusnya Iqbal melanjutkan pelajarannya ke Lahore pada 1895 dan pada tahun 1895 dan pada tahun 1905 pula beliau pergi ke Eropah untuk melanjutkan pengajiannya. Beliau memperolehi ijazah kepujian dalam bidang falsafah dan ekonomi dari Universiti Cambridge. Beliau juga sempat mengikuti kuliah dalam jurusan undang-undang di Lincoln Inn sehingga berjaya memperolehi sarjana undang-undang.
Iqbal seorang yang bercita-cita tinggi untuk terus melanjutkan pengajiannya dan untuk mencapai cita-cita ini beliau telah pergi ke Jerman untuk buat doktorate dalam bidang falsafah setelah berjaya menghasilkan disertasinya yang berjudul metafizika di Parsi.
Beliau kemudian kembali ke Pakistan untuk menjadi pensyarah sambilan dalam pelajaran falsafah dan sastera Inggeris di Goverment College. Namun beliau tidak dapat menyesuaikan jiwanya dengan bidang pekerjaannya yang mana akhirnya beliau meletakkan jawatan tersebut dan menumpukan perhatian dalam bidang undang-undang. Ketika inilah beliau banyak menulis sajak yang mana menjadikan beliau lebih terkenal.
Sebagai seorang ahli fikir, Iqbal mempunyai pandangan yang asas dalam hidupnya. Baginya segala aktiviti haruslah berdasarkan dan berlandaskan pada prinsip Islam . Justeru itu beliau menentang seni untuk seni kerana beliau berpendapat bahawa seni haruslah memberikan bimbingan terhadap fikiran dan kegiatan terhadap manusia iaitu seni yang dinamis, yang membawa kepada kebenaran dan keindahan kepada manusia.
Alam yang diciptakan Allah sangat indah, oleh itu seni yang mahu yang dihasilkan manusia seharusnya indah kerana Allah mencintai keindahan. Karya-karya penyair mestilah jujur dan murni selaras dengan hakikat kebenarannya kerana hakikat pengkaryaan seni Islam adalah berlandaskan pada kebenaran. Penciptaan seni yang indah itu adalah tugas setiap penyair.
Hal ini dinyatakan oleh Iqbal seperti berikut:
Kau mencipta malam dan aku membuat pelita
Kau mencipta tanah liat dan aku membuat piala
Kau mencipta shahar', gunung-gunung dan belantara
aku yang membuat kebun anggur, tanaman-tanaman
dan padang tanaman
akulah yang mengubah racun menjadi penawar
Pemikiran yang terkandung dalam puisinya menjadi semacam peringatan kepada saudaranya umat Islam dan manusia umumnya mengenai perlunya darjat insan direalisasikan sebagai makhluk Allah yang dijadikan dengan sebaik-baik kejadian. Anak kunci untuk mencapai matlamat yang tinggi itu tidak lain dari kebenaran yang terkandung di dalam kalimah Tauhid.
Oleh Abdul Wahid Jais
Utusan Zaman 10 Ogos 1986


